Jurang Yang Tak Ingin Ku Dekati

Tags

“Pukul tiga, malam ini
Keadaan semakin memerih
Kini, setelah kau lari
Tidur menjadi jurang yang tak ingin ku dekati”

Kekasih, aku memimpikan dirimu malam ini, kemarin, dan malam-malam sebelumnya
Bukan karena aku merindukanmu, bukan
Ini melebihi rasa rindu, terlalu besar untuk bisa ku umpatkan

Malam ini, dalam mimpi
Aku melihatmu
Tersenyum,
Menatapku,
Dalam gelimang air mata

Namun…

Kekasih, aku mengenal senyummu dengan sangat baik
Aku hidup dengan senyum itu
Senyummu bagai ruh yang tinggal di jiwaku
Aku memahami segala hal yang ingin kau sampaikan, tidak melalui kata, namun melalui senyuman

Karenanya, aku dapat mengatakan, bahwa senyum yang hadir dalam mimpiku, bukan lah senyum yang ku harapkan

Senyum itu, menyiratkan penyesalan yang teramat dalam
Aku dapat merasakannya

Seketika, seolah ada seseorang yang diam-diam memukul dadaku dengan kencang saat aku tengah terlelap
Hingga beberapa bagian dari tulang dada ku terasa retak dan patah

Aku terbangun
Dengan rasa yang teramat perih di dada

Rasanya sakit sekali
Kata-kata tak cukup menjelaskan betapa perih hatiku melihat kau sesedih ini
Kau pernah melihatku begini, kau pasti tahu betapa perihnya aku saat ini

Apa yang kau sesalkan?
Aku?
Atau pilihanmu?

Entah…

Dan gelimang air mata itu, mengalir begitu saja sesaat setelah kau menatapku

“Aku akan menyelamatkanmu” pikirku saat itu

Namun, sudi kah engkau ku selamatkan? Dari keadaan yang tak kau inginkan?

Kau hanya diam,
Tersenyum,
Menatapku,
Dalam gelimang air mata

Aneh, rasanya aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya

“Sudah hampir pukul lima
Aku masih terjaga
Kini, setelah kau lari
Mimpi menjadi jurang yang tak ingin ku dekati
Aku tak ingin tertidur, lagi”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,138 other followers