Ingatkah engkau, ketika hujan membuat udara terasa basah, dan kau berlindung di balik dadaku seperti kucing kecil yang sedang menggigil kedinginan?
Begitu menggigil sehingga kita terpaksa bertukar nafas agar hangat merasuk ke sekujur raga.
Kau tahu, pada saat itu, mataku menatap jelas ke arahmu, remang cahaya melukiskan garis bayangan di setiap lekuk wajahmu dan terbentuk sebuah imaji layaknya lukisan berparas malaikat yang dibingkai oleh sudut-sudut mataku.
Dan masih ingatkah engkau, ketika kita tengah bertukar nafas? Aku berhenti sejenak untuk sekedar memandangmu seolah esok tak akan tiba.
Pada saat itu, aku menyadari bahwa;
Perempuan yang tak terlupakan adalah perempuan yang,
“ketika ia tengah memejamkan matanya, sambil menarik nafasnya dalam-dalam melalui rahangnya sehingga dadanya terangkat bagaikan buah yang sedang ranum, lalu membuangnya sambil melenguh dan mengecap basah kelopak bibirnya hingga tak mampu lagi untuk ia mengucap kata baik di mulutnya juga di pikirannya, lalu kedua matanya perlahan memekar dan menatap langsung matamu dengan rona berkaca-kaca, menatap diam seperti membeku, dan hitam matanya semakin membesar hingga mampu menyerap segala kepedihan yang pernah kau rasakan di sepanjang hidupmu. Dan kau merasa bahwa waktu berhenti di sekitarmu, seolah dunia memberi kesempatan padamu untuk merekam wajahnya, kemudian engkau tersadar dengan sebuah gagasan gila yang sebelumnya belum pernah terpikirkan, kau tesadar bahwa jiwamu baru saja terselamatkan olehnya.”
Maka, ingatkah engkau, setelah kita saling bertukar nafas dan tatapan? Aku tak mengucapkan sepatah kata pun kepadamu.
Sebab, aku tak ingin mengatakannya, aku ingin menuliskannya, dan karena aku menuliskannya, itu berarti aku ingin mengingatnya, untuk selamanya.
Dan pada waktu itu, engkau telah menyelamatkanku. Engkau adalah……
engkau adalah……
Perempuan Yang Tak Terlupakan