Tags
pagijingga, poem, puisi, sajak
“Mengapa rasanya begitu sunyi? Memeluknya maupun tak dipeluknya”
Tak pernah ada cukup waktu untuk terus mempertanyakan, walau harus menahan kata yang seharusnya bisa terucap.
Yang ku lihat dari kita hanyalah tempat persinggahan, tak pernah menjadi rumah dimana aku merindukan pulang.
Pundakku dan pundakmu adalah ruang pelarian, dimana aku menaruh dosa lalu engkau menyimpan rasa.
Akankah kita berhenti di saat kita kian mendekat? Mempermainkannya hanya akan membuat resah, dan kita akan terus terperangkap dalam peran yang tak begitu nyata.
“Mengapa rasanya begitu pahit? Mengecupnya maupun tak dikecupnya”
Waduh, ini mah galau tingkat tinggi
Setinggi langit gak? :p